4 Fakta Perempuan Kediri yang Sengaja Menggigiti Anggota Tubuhnya Sendiri

Praktik kanibalisme di Indonesia memang salah satu hal yang menjadi sorotan dunia. Bahkan, tradisi ini dituangkan dalam sebuah buku berjudul The Head Hunters Borneo.
Si penulis sendiri mengambil sampel dari kebiasaan Suku Dayak yang memakan orang-orang sekitarnya yang mereka benci.
Tak hanya itu, masyarakat pedalaman (yang hidup terasing dari dunia modern) juga kerap disebut masih suka memakan daging manusia.
Di Indonesia sendiri, salah satu kanibal yang paling terkenal adalah Sumanto. Masuk keluar penjara dan panti rehabilitasi, kini namanya tak lagi bergaung sebagai pemakan manusia.
Praktik ini pun perlahan mulai dilupakan. Namun, baru-baru ini, kembali ada satu nama yang disebut menderita penyakit jiwa dan memakan daging tubuhnya sendiri. Siapakah dia?
Kanibal dan Memakan Anggota Tubuhnya Sendiri
Jika selama ini perilaku kanibal dilakukan kepada orang lain, maka kali ini praktik memakan daging manusia tak lain dilakukan pada dirinya sendiri.
Adalah Wiji Fitriani, seorang perempuan berumur 29 tahun asal Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Wiji diketahui memakan jari jemari tangannya sendiri hingga habis, menghisap darahnya hingga bagian tubuh tersebut membusuk.
Hal ini jelas membuat orang-orang di sekitarnya menjadi takut. Warganet yang melihat kondisi perempuan ini pun turut prihatin.
Menderita Gangguan Jiwa Sejak 2005
Usut punya usut, bukan tanpa sebab Wiji melakukan tindakan itu. ia tercatat sebagai salah satu penderita penyakit jiwa. Pasca ditinggal kedua orangtuanya bercerai, Wiji hanya diasuh oleh neneknya, Mbah Wijan (65).
Meski sudah terdeteksi sakit jiwa sejak 2005, baru dalam beberapa tahun terakhir, aksinya dinilai kerap membahayakan warga sekitar. Orangtua Wiji pun tak pernah datang dan menjenguk putri mereka itu.



Melansir inews.id, menurut tim medis puskesmas setempat, Wiji menderita skizofrenia yang bisa dicegah dengan pengobatan rutin baik dengan obat, maupun pelatihan di posyandu jiwa. Sayang, hal tersebut kerap ditolak keluarga.

Comments